Senin, 14 Januari 2013

SEKOLAH PELOPOR


Term of Reference
PROGRAM KERJA BIDANG KEILMUAN
IMM KOMISARIAT TEKNIK
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH MALANG
PERIODE 2012-2013
SEKOLAH PELOPOR
Epistemologi Suatu Jalan Menuju Kebenaran Sejati
IMM Aufklärung Teknik UMM

v Seperti halnya zaman Aufklarung yang muncul sebagai pembuka tabir peradaban menjadi cahaya di tengah hegemoni kegelapan, membebaskan manusia dari jeratan kemiskinan akal dan pikiran. Kelahiran zaman Aufklarung tak lepas dari takdir sejarah dan panggilan akal para pemikir yang terus berdialektis mengikuti zaman, begitu juga dengan komisariat Aufklarung Teknik yang kelahirannya sudah merupakan takdir sejarah, hasil kontemplasi beberapa kader yang coba melepaskan diri dari kemiskinan akal dan intelektual.
Kebesaran organisasi yang hanya tampak dalam kuantitas yang besar namun tidak berbanding lurus dengan kualitas yang mumpuni secara eksplisit menunjukkan lemahnya pendidikan yang diberikan kepada setiap individu yang di dalamnya, sehingga yang kemudian terjadi dinamika organisasi menjadi semakin lemah, kurangnya progresifitas dan inovasi membuat organisasi hanya bergerak di tempat.
Urgensi filsafat dalam membangun dinamika organisasi. Wilayah pemikiran memegang peranan yang cukup fundamental dalam menentukan arah organisasi ke depan, sehingga rekonstruksi intelektualitas dalam wujud filrafat harus di tanamkan secara intensif agar kader yang dalam hal ini merupakan materi penyusun dan penggerak organisasi mampu menganalisa secara atomik, memahami secara holistik dan membuat proyeksi ke depan secara objektif sesuai kondisi kekinian tentunya.
Berdasarkan pertimbangan tersebutlah bidang keilmuan kemudian menggagas program kerja yang selanjutnya kami sebut Sekolah Pelopor

Tujuan
v   Menciptakan budaya berpikir radikal kader Aufklärung.
v   Membentuk karakter, wawasan dan pola pikir kritis kader Aufklärung.
v   Menumbuh kembangkan semangat dialektis dalam lingkungan komisariat.
v   Membangun budaya menulis bagi kader.

Hasil Yang Diharapkan
v   Terciptanya kader yang berintelektual kritis, progresif, radikal dan objektif.
v   Terciptanya kader yang memiliki kemampuan menginterpretasikan intelektualnya dalam bentuk tulisan.
v   Buku hasil kajian.
Tema
Epistemologi Suatu Jalan Menuju Kebenaran Sejati


Landasan
v  GBHO & GBHK IMM Aufklarung 2012-2013
v  Visi Misi IMM Aufklarung 2012-2013
v  IMM Advancement Strategic DPD IMM Jawa Timur 2008-2010
Sasaran
v  Kader angkatan 2011 (khusus)
v  Badan Pengurus Harian Komisariat (angkatan 2010)
Waktu dan Tempat Kegiatan
v  Waktu Pelaksanaan         : 1x2 Minggu
v  Tempat Pelaksanaan       : IMM Komiariat Aufklarung

DISKUSI PELOPOR


Term of Reference
PROGRAM KERJA BIDANG KEILMUAN
IMM KOMISARIAT TEKNIK
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH MALANG
PERIODE 2012-2013
DISKUSI PELOPOR
Radikal dalam Berpikir, Tajam dalam Menganalisa serta Keras dan tekun dalam Berpraktek
IMM Aufklärung Teknik UMM

v  IMM Aufklarung merupakan hasil dari gagasan imajiner, gagasan sejarah dan gagasan realitas yang tidak akan pernah selesai. Ia akan terus bergerak dan berubah melintasi zaman sesuai dengan visinya, dimensi intelektualitas memegang peranan yang cukup fundamental dalam menentukan arah gerak sejarah dalam kaderisasi organisasi.
Dialektika sejarah, Imm Aufklarung yang memilik karakter lantang bicara, berani aksi dan, bertanggung jawab serta wawasan dan dan pola pikir kritis, radikal kader-kader Aufklarung selalu menjadi ciri khas budaya intelektual organisasi dalam mengembangkan semangat dialektis di lingkungan komisariat. Dan Aufklarung hari ini sedang mengalami degradasi disetiap sendinya Humanitas Religiusitas dan tentunya Intelektualitas, budaya-budaya inteletual seperti kajian atau diskursus, karya tulis, dan aktualisasi keilmuan sekarang sudah luntur dalam tubuh ikatan sehingga yang kemudian terjadi dinamika organisai menjadi semakin lemah serta kurangnya progresifitas dan inovasi membuat organisasi tidak berkembang, stagnan hanya bergerak di tempat.
Berdasarkan pertimbangan tersebutlah bidang keilmuan kemudian menggagas program kerja yang kemudian kami sebut Diskusi Pelopor.



v  Diskusi Pelopor  dengan tema “Radikal dalam Berpikir, Tajam dalam Menganalisa serta Keras dan tekun dalam Berpraktek ini hadir guna menjawab tantangan budaya intelektual yang harus ditumbuhkan kembali sebagai ciri sebuah karakter ikatan yang kuat serta sebagai sebuah instrumen yang memfasilitasi lahirnya gagasan ilmiah yang visioner, argumentatif dan mencerahkan. Dan dalam Penanaman budaya diskursus kita tidak bisa berpangku tangan terhadap kondisi yang ada “kader”, namun kita sebagai fasilitator sudah seharusnya terlibat secara langsung dalam mengembangkan semangat dialektis dalam lingkungan komisariat.
Tujuan
v  Membangun budaya intelektual dalam ikatan.
v  Menumbuh kembangkan semangat dialektis dalam ligkungan komisariat.
Hasil Yang Diharapkan
v  Terciptanya karakter ikatan yang kuat
v  Terciptanya kader yang berwawasan kritis, progresif, radikal, dan objektif.
Tema
v  Radikal dalam Berpikir, Tajam dalam Menganalisa serta Keras dan tekun dalam Berpraktek
Landasan
v  GBHO & GBHK IMM Aufklarung 2012-2013
v  Visi Misi IMM Aufklarung 2012-2013
Sasaran
v  Kader IMM Aufklarung
Waktu dan Tempat Kegiatan
v  Waktu Pelaksanaan         : 1x2 Minggu
v  Tempat Pelaksanaan       : IMM Komiariat Aufklarung

SILABUS DISKUSI PELOPOR

No.
Materi
Metode
Waktu
Pemateri
1.
Demokrasi Sebuah Sistem Politik Ideal “Indonesia”?
Diskusi
2 Jam

Immawan Haidar
Immawan Beni
2.
Fenomena Dualisme Jabatan Dalam Organisasi

Diskusi
2 Jam

Immawati Suci
Immawati Neila
3.
Relevansi Ideologi Pancasila

Diskusi
2 Jam

Immawan Prasetya
Immawan Eko
4.
Liberalisasi Islam

Diskusi
2 Jam

Immawan Arief
Immawan Didi
5.
Islam Kiri dan Islam Konservatif

Diskusi
2 Jam

Immawan Zulkifli
Immawan Zaini
6.
Pluralisme Agama

Diskusi
2 Jam

Immawan Muis
Immawan Faruk
7.
Sekularisme Dalam Perspektif Agama Islam

Diskusi
2 Jam

Immawan Halim
Immawan Ridho
8.
Aspirasi: Melalui Demonstrasi


Diskusi
2 Jam

Immawan Yandi
Immawan Oky
9.
Perempuan Sebagai Seorang Pemimpin

Diskusi
2 Jam

Immawati Nina
Immawati Resti
10.
Manusia Ada Untuk Menegakkan Hukum, Atau Hukum Ada Untuk Menegakkan Kemanusiaan

Diskusi
2 Jam

Immawan Robby
Immawan Dayat

Materi “kader” Dalam Perkaderan dan Pengkaderan IMM
Assalamualaikum Wr. Wb.
Seperti yang sudah dirumuskan dalam Anggaran Dasar IMM dan Tujuan IMM adalah: “mengusahakan terbentuknya akademisi muslim yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah” berangkat dari sinilah yang menjadikan semangat perjuangan Ikatan Mahasiswa Muhammadiya (IMM) sebagai gerakan mahasiswa untuk melakukan sebuah pencerahan yang memiliki identitas terdalamnya yakni Tri Cita Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
Realitas saat ini, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang tidak lepas dari sejarahnya sebagai organisasi perkaderan yang tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan kader adalah hal yang penting sebagai regenerasi suatu roda organisasi dimana kader-kader tersebut adalah sebagai “iron stock” pewaris dan penerus tampuk pimpinan umat, dalam hal ini, organisasi IMM, yang juga sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah.
Maka dalam hal ini, kader atau Sumber Daya Manusia “SDM” merupakan obyek atau materi yang riil dalam pengelolaan regenerasi perkaderan, dan menjadi kebutuhan yang sangat urgen dalam perkaderan ataupun pengkaderan yakni kualitas dan kuantitas. Dalam hal ini, dinamika pergerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dibawah cengkraman budaya hedonisme mahasiswa, yang tertancap dalam ego individu dan memilih hidup dalam kemapanan-kemapanan, bersantai, berbisnis, atau mungkin berwirausaha yang lebih menguntungkan? Dan lebih menggiurkan?, melihat dari sini, maka kebutuhan-kebutuhan perkaderan atau pengkaderan akan jauh dari koridor awal bahwa terbentuknya kualitas kader yang  progresif dan militan sebagai regenerasi organisasi akan tidak mudah untuk terpenuhi. Historisitas perjalanan IMM  melalui berbagai dialektika sejarahnya, yang dahulu memiliki sumber daya manusia yang unggul sebagai petarung dalam dinamika organisasi dan berbeda jauh dari saat ini karena sistem perkaderan sekarang memiliki tantangan yang lebih berat dalam pengelolaan materi “kader” yang selalu bergerak secara dinamis sesuai dengan perkembangan zaman, maka dari itu dalam pergerakan sistem perkaderan maupun pengkaderan juga harus bisa berkembang dan berinovasi sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Dan, bentuk-bentuk konsepsi yang baru dalam sistem perkaderan atau pengkaderan adalah sebuah entitas kader yang memiliki ciri keseimbangan identitasnya Intelektualitas, Religiusitas, dan Humanitas. Dan dalam bentuk konsepsi sistem perkaderan dan pengkaderan nantinya meniscayakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah akan selalu berinovasi dan berkembang secara dinamis sehingga mampu mengembangkan potensi yang dimiliki kader-kader IMM, sehingga nantinya mampu mengaktulisasikan dirinya dan selalu berfstabiqul khoirot. Maka dari itu kerangka gerakanharus terfokus pada basis kaderisasi demi tercapainya tujuan IMM.
Billahi fi sabililhaq, fastabiqul khoirot
Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh                           Imm. Abdul Muis Nahari
*tugas makalah syarat ideopolitor IMM Aufklarung, meski ala kadarnya ^^

Senin, 12 November 2012

GBHO DAN GBHK IMM KOMISARIAT AUFKLARUNG TEKNIK

HASIL SIDANG KOMISI A
MUSYAWARAH KOMISARIAT
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
KOMISARIAT “AUFKLÄRUNG” TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
PERIODE 2011-2012

Pola Komunikasi dan Struktur Organisasi

A.    Pola Komunikasi Komisariat
B.  Struktur Organisasi Komisariat




Keterangan:

PPA    : Pengembangan Potensi Akademik
PPP     : Penelitian dan Pengembangan Profesi
TK      : Training Keprofesian

HASIL SIDANG KOMISI B
MUSYAWARAH KOMISARIAT
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
KOMISARIAT “AUFKLÄRUNG” TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
PERIODE 2011-2012
 

Garis-Garis Besar Haluan Organisasi dan
Garis-Garis Besar Haluan Kerja

A.    Garis-Garis Besar Haluan Kebijakan Organisasi
1.      Sebagai ortom (organisasi otonom), sekaligus organisasi kemahasiswaan, harus dapat berfikir kritis dan rasional serta independent dalam menetapkan setiap kebijakan;
2.      Dalam menentukan setiap kebijakan umum organisasi, komisariat harus dapat melibatkan seluruh jajaran pimpinan harian komisariat maupun pimpinan rayon, dalam peran instruktif maupun koordinatif dan komunikatif yang harus dijalankan secara berimbang, komisariat memiliki hak dalam menentukan setiap kebijakan, melalui rapat pimpinan harian komisariat;
3.      Penentuan kebijakan khusus diambil melalui jalan mufakat pada rapat pimpinan harian komisariat;
4.      Kebijakan organisasi harus berdasarkan AD/ART IMM dan disesuaikan dengan kebutuhan komisariat.

B.     Garis-Garis Besar Haluan Kerja Komisariat
1.      Ketua
a)      Membagi peran dan fungsi pimpinan harian komisariat;
b)      Menjalin hubungan dan kerja sama antar-IMM;
c)      Membangun dan mengembangkan jaringan komunikasi eksternal;
d)     Membangun dan mengembangkan jaringan intelektual serta fungsi politik (organisasi mahasiswa ekstra kampus);
e)      Meningkatkan komunikasi serta support moral yang baik dalam kampus;
f)       Bertanggung jawab penuh dsn konsisten terhadap jalannya organisasi.
2.      Wakil
a)      Membantu tugas-tugas ketua;
b)      Bertanggung jawab atas tugas-tugas dan wewenang terhadap pimpinan harian dan lembaga dalam hal konsolidasi komisariat.
3.      Sekretaris Eksekutif
a)      Bertanggung jawab atas inventaris, tugas-tugas kesekretariatan, dan administrasi keorganisasian komisariat.
4.      Bendahara Umum
a)      Bertanggung jawab atas keuangan komisariat baik dalam kampus atau luar kampus;
b)      Bertanggung jawab atas penggalian pendanaan komisariat;
c)      Melakukan pendataan keuangan komisariat secara terperinci.


5.      Bidang Organisasi
a)      Bertanggung jawab menjaga kehormatan dan tata tertib administrasi organisasi;
b)      Bertanggung jawab atas pendidikan tentang keorganisasian pada kader;
c)      Mengkoordinasikan kebutuhan komisariat secara kelembagaan pada tingkatan komisariat.
6.      Bidang Hikmah
a)      Bertanggung jawab atas peran strategis kader di tingkatan komisariat dan memberikan penguatan peran strategis di lingkungan rayon;
b)      Kritis dan progresif terhadap kebijakan kampus dan peraturannya-peraturannya dengan tetap melakukan analisa kebijakan;
c)      Memaksimalkan diskusi kontemporer;
d)     Aktif memberikan informasi aktual terhadap seluruh anggota ikatan pada setiap level kepemimpinan.
7.      Bidang Kader
a)      Bertanggung jawab atas segala kebutuhan pengkaderan di tingkatan komisariat dan rayon pada khususnya;
b)      Melakukan analisa secara kontinyu serta kajian-kajian terhadap kader dan berusaha untuk menciptakan formulasi dalam pengkaderan secara merata dalam kualitas IMM di tingkatan komisariat;
c)      Mengkoordinasikan bersama jajaran pimpinan harian komisariat dalam memperkuat sistem perkaderan dan pengkaderan;
d)     Melakukan penjaringan, dan pendataan serta pendistribusian kader.
8.      Bidang Keilmuan
a)      Bertanggung jawab terhadap pengembangan ilmu pengetahuan;
b)      Sebagai fasilitator kader dalam melakukan penelitian;
c)      Menumbuhkan dan meningkatkan kualitas intelektual kader.
9.      Bidang Sosial Ekonomi
a)      Membangun jaringan dan kerja sama serta hubungan eksternal secara kontinyu kepada ortom, lembaga, instansi, maupun omek lain;
b)      Mengadakan amal usaha yang kemudian dikelola oleh komisariat;
c)      Bersama bendahara melakukan penggalian dana untuk komisariat;
d)     Mengupayakan pemberdayaan terhadap masyarakat.
10.  Bidang Dakwah
a)      Pemetaan potensi kader da’i terhadap tuntutan pergumulan dakwah kampus;
b)      Bertanggungjawab terhadap gerakan amar ma’ruf nahi munkar.
11.  Bidang Immawati
a)      Bertanggung jawab atas perkembangan psikologi immawati di komisariat;
b)      Bertanggung jawab terhadap pembangunan serta pengembangan jaringan di bidang immawati dengan komisariat lain, lembaga, dan omek baik di semua tingkatan.


12.    Bidang Media dan Informasi Teknologi
a)      Bertanggungjawab menciptakan media komunitas yang mumpuni;
b)      Menciptakan kultur menulis di komisariat;
c)      Bersama bidang kader membuat database kader berbasis teknologi informasi.


C.    Pola Kebijakan Umum
1.      Sebagai unsur pembantu pimpinan, rayon bertindak sebagai fasilitator kebutuhaan kader di bidang akademik dan bidang keprofesian;
2.      Sebagai unsur pembantu pimpinan, rayon berfungsi untuk membantu komisariat di dalam hal koordinasi dan konsolidasi kader di setiap jurusan;
3.      Sebagai penunjang koordinasi untuk melakukan penjaringan dan perekrutan kader di tingkatan jurusan.

D.    Haluan Kerja Khusus
1.      Koordinator
a)      Sebagai koordinator pada tingkatan rayon;
b)      Bertanggung jawab terhadap kader di tingkatan jurusan;
c)      Bertanggung jawab dan mengoptimalkan kinerja rayon;
d)     Membangun dan meningkatkan komunikasi dengan rayon-rayon lain dan komisariat;
e)      Meningkatkan jaringan intelektual’
2.      Wakil Koordinator
a)      Membantu tugas koordinator dalam hal bertanggung jawab terhadap pengawasan pelaksanaan operasional dan stabilitas internal rayon;
3.      Sekretaris
a)      Bertanggung jawab terhadap administrasi dan pengelolaan inventaris rayon.
4.      Bendahara
a)      Bertanggung jawab terhadap pengeloalaan keuangan rayon;
b)      Melakukan penggalangan dana untuk rayon.
5.      PPA (Pengembangan Potensi Akademik)
a)      Bertanggung jawab terhadap perkembangan potensi akademik kader;
b)      Bertanggung jawab terhadap permasalahan akademik kader.
6.      PPP (Penelitian dan Pengembangan Profesi)
a)      Bertanggung jawab terhadap pengembangan potensi keprofesian dan skill kader;
b)      Bertanggung jawab mengembangkan wacana keilmuan kader.
7.      TK (Training Keprofesian)
a)      Sebagai fasilitator kader dalam melakukan penelitian;
b)      Meningkatkan kualitas kader dalam hal pelatihan keprofesian.

HASIL SIDANG KOMISI C
MUSYAWARAH KOMISARIAT
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
KOMISARIAT “AUFKLÄRUNG” TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
PERIODE 2011-2012 

Rekomendasi

A.    Rayon
1.      Mengupayakan peningkatan skill, keprofesian, dan akademik kader di masing-masing rayon;
2.      Mengarahkan pola pikir kritis dan wawasan para kader;
3.      Menciptakan hubungan organisasi yang harmonis dan sinergis dalam tubuh rayon, antarrayon, dan komisariat;
4.      Menumbuhkan progresifitas, tanggungjawab, dan kepedulian kader di tingkatan rayon.
B.     Komisariat
1.      Pengembangan jaringan baik pada tingkatan regional maupun nasional;
2.      Pembentukan jaringan para kader yang ada pada tataran lembaga intra, laboratorium, LSO, dan UKM serta birokrasi kampus UMM;
3.      Menanamkan dan mengimplementasikan Tri Kompetensi Dasar IMM (Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas);
4.      Mengembangkan bergainning position dan bergainning power di tingkatan komisariat-komisariat lain, omek, dan birokrasi kampus;
5.      Memahamkan dan mempertegas pelaksanaan tertib administrasi dalam lingkup rayon maupun komisariat;
6.      Optimalisasi kontroling atas pendistribusian kader;
7.      Mentanfidzkan hasil musykom maksimal 1 minggu setelah terbentuknya badan pimpinan harian dan mensosialisasikan ke rayon;
8.      Optimalisasi keaktifan dalam menganalisis dan menyikapi isu-isu nasional;
9.      Meningkatkan intensitas silaturahmi dengan pimpinan Muhammadiyah dan ortom lainnya;
10.  Mengupayakan image building di tengah ruang publik;
11.  Mendorong tumbuhnya kultur penggunaan teknologi dalam aktifitas gerakan IMM termasuk peningkatan kapasitas kader terhadap teknologi.